materi 14 filsafat
Filsafat pendidikan masa depan secara
konseptual, kontekstual dan filosofi
1.Tinjauan problematika dan dilematika pendidikan
Dilihat dari pejalanan sejarah pendidikan
Indonesia, arah pendidikan disesuaikan dengan keadaan dan kepentingan penguasa,
ketika pengasa memerlukan suatu kekuatan politik ke arah itulah pendidikan di
arahkan. Bangsa Indonesia, sejak merdeka
hingga saat ini mengalami pergantian empat model kepemimpinan, masing-masing
adalah orde lama, orde baru, orde reformasi dan orde sekarang yag banyak
pengamat atau pemerhati menyebutnya sebagai era transisi menuju demokrasi.
Sedikit atau banyak, tentunya setiap orde memberikan konstribusi dan membantu
menentukan corak pendidikan saat ini. Pengalaman di antara pengajar dalam proses
pembelajaran menunjukkan, bahwa ada pada beberapa sekolah model pengajarannya
mengkondisikan muridnya disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang kurang perlu
seperti mencatat bahan pelajaran yang sudah ada dalam buku.
Sejalan dengan pendapat tersebut, maka
pijakan utama bagi praktek pembelajaran yang bijak dari seorang pendidik yang
terlatih menurut Susan Issacs (1948) adalah memberikan suatu kerangka kerja
yang kokoh untuk control dan rutin serta bantuan nyata sesuai aturan-aturan
sosisl, namun tetap dengan kebebasan pribadi yang luas (Hinshelwood dalam
Palmer, 2003:11) artinya keterampilan guru dalam menggunakan sarana dan
prasarana belajar secara optimal.
2.Pendidikan untuk kemanusiaan dan kemerdekaan
Dalam perspektif filsafat pendidikan,
manusia merupakan sumber pengetahuan karena dari manusialah, pendidikan
dilahirkan pertama kali, bahkan orang-orang sufi mengatakan, “barang siapa
ingin mengetahui sang pencipta, pelajarilah jiwa manusia,” (man arrafa rabbahu
arrafa nafsahu).Tujuan filsafat pendidikan tentang manusia
mengarahkan pembentukan tingkah laku manusia yang rasional, adaptif dengan
alam, selektif dengan perubahan, berjiwa reformis, modernis, kritis, dan
progresif. Manusia diarahkan pada pembentukan pola kehidupan yang mandiri
dengan moralitas yang tinggi dan universal, yaitu kebaikan yang tidak mengenal
batas, ruang, dan waktu.
sumber.
Salahudin Anas. 2011. Filsafat pendidikan Bandung:
Pustaka setia
Dr. Syaiful Sagala. 2012. Konsep dan makna
pembelajaran Bandung: Alfabeta

Komentar
Posting Komentar